Posts

Pesan

Aku menerima pesanmu. Pesan yang kau sampaikan hingga berlembar-lembar. Pesan yang coba kau utarakan sejak dulu hingga kini. Kumpulan kata juga ucapan yang penuh keindahan juga rasa getir. Maafkan aku yang tak peka dan luput menerima pesanmu. Maafkan aku yang keliru mengartikan pesanmu. Maafkan aku karena lalai membaca maksudmu. Kini kumengerti setiap kata dalam pesanmu. Kuterima dengan jelas dan terang. Mereka punya arti dan makna satu. Yang hingga hari berakhir, aku tetap tak kuasa untuk menghadapi pesanmu.

Satu yang terlupakan

Lama sudah kutinggalkan dirimu. Kulewatkan dalam ribuan detik, menit, bahkan beribu hari aku tanpamu. Kamu, satu yang terkasih, satu yang kudamba. Satu yang jelas telah terlupakan ditelan waktu dan keteledoran hatiku. Dari sekian insan yang kutemui, kamu yang seharusnya kujaga, tapi kulalai. Kau yang semestinya kusayang, malah kuabaikan. Kau yang sebaiknya kucinta, tapi tak kuhiraukan dirimu. Kumohon belas kasihmu. Kupinta kasih sayangmu. Apalah aku tanpamu, yang lengkapi diriku seutuhnya. Kuharap kau tak lagi jadi satu yang terlupakan.

Cinta

Rembulan, aku ingin bercerita tentang cinta. Lihatlah kau ke bawah. Ada hamparan sinar yang menyala dari ratusan sumbu lilin. Cahayanya tak kalah terang darimu. Menerangi malam ini. Menyinari setiap jiwa yang hadir malam itu, begitu pula jiwaku. Rembulan, aku ingin kau tahu tentang cinta. Kaulah saksi kasih yang mekar di tengah gulita malam ini. Ketika sunyi seharusnya datang, deru cinta sebaliknya hadir bergemuruh. Melodi indah mengusung nyanyian bagi Nusantara yang bersatu dibawah kepakan sayap gagah Garuda. Rembulan, rasakanlah gaduhnya cinta ini. Dipersembahkan untuk ibu pertiwi. Negeri tempat kami berpijak, tanpa kuasa memilih warna kulit, tanpa bisa memilih suatu bangsa. Dibawahmu, kami adalah satu. Dengan saksimu, kami berpijak di tanah yang satu. Kami Indonesia

Nyata

Kau terlahir sebagai manusia tak sempurna. Kau pun berbeda denganku. Kau lakukan segudang kesalahan di saat kejayaanmu. Perilakumu juga kadang mengesalkan banyak orang. Kau pun mungkin jauh dari sosok idola. Tapi sesuatu yang kau lakukan telah mengubah segalanya. Kau buatku bangga. Kau bahkan buatku merasa memiliki lagi apa yang sudah tidak kuharapkan dan kubayangkan. Napas pada masa depan dan harapan yang nyata. Kau perlahan tunjukkan kota tempatku besar bergerak tumbuh, maju dengan pesat. Kau libas korupsi yang telah lama gerogoti kota ini. Kau buktikan tanah ini, rumput ini tak kalah hijau dari rumput seberang. Terima kasih atas segala kemungkinan yang dulu tiada, kini nyata di depanku. Terima kasih kau gerakkan lagi hatiku yang dulu mati membatu karena pupus sosok tumpuan. Kau ternyata ada dari seribu yang tiada. Dan kau tetap setia saat mereka menolakmu. Sebuah tulisan untuk Ahok

Elegi Si Bintik

Kamu menghangatkanku. Membelaiku dengan sentuhanmu yang lembut. Pelukmu begitu erat sampai wangi aromamu membiusku tidur. Aku suka kamu bersamaku. Namun apa jadinya jika kau tiada? Tanpamu, malamku hanya sepi diselimuti dingin. Tanpamu, aku larut sendiri. Kau setia hadirkan tubuhmu. Kau ada sempurnakan malamku. Mengusapku manja hingga larut tiba. Lalu apa jadinya jika kau menghilang? Kubayangkan berbaring kosong. Tanpa sosok juga wujudmu. Tanpa kau disampingku. Yang tersisa hanya aroma wangimu. Tertinggal di sekujur tubuhku. Menggiringku lemas dalam kerinduan.

Biarkan

Bila asa itu telah hilang, biarlah ia tak ditemukan. Biarkan ia pergi untuk tak kembali. Biarkan ia pudar dan meredup di tengah keheningan. Biarkan ia terkunci rapat dalam kotak pandora. Sampai ia kembali merekah bak kelopak bunga. Sampai ia menemukan jalannya usai tersesat. Sampai sinarnya kembali berpendar menyambut pagi. Aku akan selalu menunggunya.

Bodoh

Rasa itu masih saja melekat. Dia yang belum juga beranjak sejak terakhir hadir jadi bagian dariku. Kebodohan berulang yang kembali menyudutkanku pada penyesalan teramat dalam. Sungguh kuingin bisa mengatur waktu. Agar saat itu tak pernah ada. Agar aku tidak menyakitinya. Kini yang tersisa hanya rasa kecewa. Kekesalan dan buat dirinya pergi. Ingin kuobati hatinya yang luka dengan beribu kata maaf. Satu kata yang sering kuungkapkan, tapi masih berarti untukku. Semoga juga untuknya. Meski kata itu mungkin tidak cukup buatnya kembali, kuharap ia merasakan kesungguhan ini. Maafkan aku

Oleng

Aku terayun. Ke kiri dan ke kanan. Oleng. Seperti berdiri di atas perahu diatas gelombang. Aku jadi sulit berpijak. Tidak ada yang menahanku. Segalanya bergerak. Seringkali hampir terjatuh. Beruntung aku masih bisa mencengkram sesuatu. Apa saja yang bisa kupegang. Entah asa atau impian. Sebelum keduanya jatuh tenggelam.

Mengira

Beberapa kali kupejamkan mata. Mengira apa rasanya hariku yang kosong tanpamu. Beberapa kali kalimat itu kulatih. Mengira apa reaksimu saat kuperdengarkan. Beberapa kali kucoba 'tuk tersenyum. Mengira apa kesedihan itu 'kan segera berakhir. Beberapa kali aku mencoba untuk menerima. Mengira seberapa tulus kumelepasmu.   

Di Atas Angin

Ingin sekali-kali berada di atas angin. Menghirup udara yang lembut. Memejamkan mata sambil tersenyum. Mengosongkan pikiran. Mengusir rasa risau. Sayang, saat itu belum kunjung tiba.

Sebuah Angan

Sayang, aku ingin berlari bersamamu. Tak perlu mencari jarak jauh. Tak perlu melintas jalan yang sulit. Aku hanya ingin lari disampingmu. Menghirup udara bebas, menari di pijakan tanah merah, merasakan semburan angin. Sayang, larilah bersamaku. Dengan kamu disampingku. Dengan bintang menyinari langkah lebar kita. Dengan hujan yang hampir menghampiri. Biarlah yang lain mengikuti. Biarkan mereka mengejar. Sampai jarak akhirnya memisahkan kita. Sampai lelah menguras keringat.

Kalem

Bagaimana caranya menjadi kalem, padahal Tuhan sudah menurunkan hujan agar hati tetap tenang, tetapi hati masih saja merajuk. Padahal satu buku tentang pembuka hati sudah kau baca habis, tetapi kisahnya belum juga kau serap dan pahami. Padahal kau sudah berjanji menjadi lebih bijak saat usiamu bertambah setahun, tapi tingkah lakumu malah mundur 10 tahun. Kalem. Kata yang pendek namun sungguh bermakna. Kalau sudah begini, mending tinggal tidur dan berharap besok hujan runtuh di atas kepalamu sampai menjadi adem. Mungkin saat itu kau menjadi kalem. *Sebuah kisah tentang perasaan ambek

Geger (Ep. 2)

Satu persatu mereka datang. Waktunya jarang bersamaan. Kadang gantian. Kadang rombongan. Sirkus saja kalah ramai. Mereka malah suka muncul tiba-tiba. Entah dari mana. Satu-satu, kadang bebarengan. Semua terserah mereka mau datang dengan siapa. Mereka tiba dengan wajah memelas, bersuara lantang dan berisik. Nyaring seperti piring pecah. Rombongan tanjidor saja kalah gaduh. Meski tidak sedang berdemo, mereka sehati dan sepakat untuk meneriakkan satu kata, "Lapar!". Sudah datang tak terduga, bertandangnya tanpa sopan santun. Tidak satupun yang mengucap salam, apalagi bertukar kabar. Mereka langsung berhamburan masuk, ngacir menuju satu tempat. Dengan sekali endus, tanpa perlu radar, mereka tahu letak harta karun yang dicari. Sebungkus makanan kucing yang saya bungkus rapi, anti gores, anti robek, anti dicabik-cabik, dan anti-anti lainnya. Kejadian geger ini baru selesai episodenya setelah mereka melahap bayangan mereka yang sudah menjadi santapan terindah dalam hidup...

Milik Bersama (Ep. 1)

Jejak-jejak kecil. Menyusuri, mengitari ruangan. Menyelonong kesana kemari. Meninggalkan coretan di lantai. Membuat rute jejak yang sembrono. Tampaknya ada yang sibuk. Entah mencari apa. Jelas mereka menyusup ke ruangan. Satu jendela kedapatan terbuka. Ketahuan cara mereka masuk. Serbuan jejak kecil. Tapak itu tidak hanya satu. Besarannya berbeda, jejaknya dimana-mana. Sepertinya mereka bangga mempertontonkan gerak geriknya. Sebuah aksi tanpa saksi mata. Tinggal saya sendiri. Berdiri menatapi lantai yang sehari sebelumnya saya poles rapih. Bersih dan wangi. Bercak tanah bermotif telapak-telapak kaki kucing menjadi satu pertanda. Rumah saya milik mereka juga.

Pilihan

Banyak orang menuangkan ide, tapi seberapa besar ide itu berjalan dan tidak mandek di ruang konsep. Banyak orang menyodorkan janji, tapi seberapa banyak orang yang bisa mengolah janji menjadi bukti. Tidak sedikit orang yang pandai berkata-kata. Berdiplomatis kadang. Namun seberapa banyak kata yang tidak hanya berujung teori? Belakangan banyak sekali ide yang diumbar, berlimpah janji, berjibun kata pintar. Belum lagi wajah-wajah yang memesona memberi kesan yang berbeda pula. Lalu muncul cerita-cerita yang beragam diantara mereka. Bahkan saling menjatuhkan. Membuat banyak orang bimbang untuk menentukan pilihan. Beruntung saya bukan termasuk orang yang bimbang, ragu, juga sangsi. Jauh sebelum perang debat, saya sudah tentukan pilihan. Jauh sebelum mereka meyakinkan rakyat, saya sudah percaya. Dia pilihan saya. Janjinya telah dibuktikan pada saya. Dia tidak lagi berteori. Dia telah mengimplementasi. Dia sudah berjalan. Dia hanya perlu menyelesaikan langkahnya.

Selamat Jalan Bapak

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un. Saya ucapkan sambil menitikkan air mata. Dalam doa dini hari tadi, saya teringat sosok bapak, ayah dari sahabat saya, dan juga mantan atasan saya. Sosok yang membukakan pintu nafkah bagi saya, hingga saat ini. Mr. Clean. Begitu sebutannya. Jabatan yang tidak tergantikan hingga akhir hayatnya. Julukan yang langka di tengah virus korupsi yang menggerogoti tubuh negara ini. Saya tidak begitu tahu seluk beluknya saat blusukan di pemerintah. Saat berusaha mengobati negeri ini dari penyakit korupsi. Saat memikirkan bangsa dan negeri ini. Saya lebih mengenal beliau sebagai seorang atasan. Seringkali beliau masuk ruangan saya. Duduk berlama-lama dan mengajak kami mengobrol. Tentang pekerjaan, kehidupan, agama. Satu yang tidak pernah diucapkannya saat di kantor adalah tempat salah satu kakinya berpijak: pemerintahan. Ia berprinsip Bungkam tentang politik karena kantor saya menganut paham netral dan hanya mengurusi masalah kemanusiaan. Bukan perpoliti...

Jangan nodai Jakarta

Hari ini Jakarta seperti kota suci. Jantung ibukota menjadi serba putih berserukan doa. Massa berbondong ingin beraksi damai. Kalau saja massa tidak penuh sesak, mereka pasti sudah memutari Monas yang ibarat Ka'bah hari itu. Berita menyebutnya aksi super damai. Saya menyebutnya peristiwa yang layak masuk daftar sejarah Jakarta. Bagaimana tidak, satu orang bisa menyatukan ribuan orang. Berkumpul jadi satu. Dari kejauhan, saya melihat kota kelahiran saya. Berharap darah tidak tumpah menodai warna putih yang ada. Berharap bukan darah yang menggenangi kota Jakarta, melainkan hujan yang turun. Biarlah kota saya tetap adem, seperti yang terjadi kalau musim hujan tiba. Dari kota sebelah, perasaan saya campur aduk. Khawatir dengan apa yang bisa saja terjadi. Ribuan orang berkumpul, kadang berakhir tawuran. Beruntung, ketakutan saya sirna. Aksi damai lancar, saya pun mengucap syukur. Hari ini Jakarta tidak ternodai.

Jejak

Pasir membentuk seluas alas kakiku. Menampakkan iring-iringan jejakku yang berbaris seperti serdadu. Setia mengikuti langkahku yang kutenggelamkan terbenam di dalam pasir. Lembutnya butiran pasir kurasakan menempel di kakiku. Begitu halus, sampai hangatnya air laut menanggalkan setiap butirannya dari kakiku.   Aku terus berjalan dengan sesekali menengok ke belakang. Jejakku menghilang. Disapu air laut yang datang dan pergi. Kulihat kembali ke depan. Pasir membentang seluas pandanganku. Menunggu setiap jejak yang akan kubenamkan di lautan butiran pasir.   Di dekatku, air laut menderu. Seakan berseru untuk kembali menghapus jejakku.    

Mengejarmu

Aku mengikuti langkahmu di jalan penuh batu. Langkahmu panjang dan menyepak bebatuan. Aku tertinggal bersama serpihan batu yang pelan-pelan berusaha kubuang. Kutendang agar menjauh dari jalan itu, dari hadapanku. Hanya untuk mengejar langkahmu. Yang panjang dan lebar. Kadang kau berjalan terlalu jauh. Meninggalkan sosok bayangan di kejauhan. Sementara Aku masih tertinggal. Mencoba melampiaskan kerikil yang masih tercecer di jalan. Di jalan yang semakin berkelok dan berbelok. Aku terus mencoba menyongsongmu yang kini setengah berlari. Entah bayangmu atau dirimu yang akan kutemui.  

Memecah keheningan

Disana aku berdiri, di saat yang lain terduduk dan sibuk memecah hening ruangan. Waktu yang bergulir pelan berlalu disampingku. Setia menemani kekosonganku yang buyar saat kau hadir. Engkau tiba tanpa kata.  Hanya senyum yang menyapaku dengan bisu.  Meski ketika kita bersama, tidak ada satupun kata yang terlewat. Tidak ada cerita yang tak usai. Tidak ada tawa yang gagal memecah keheningan.