Posts

twitzodiak

Iseng membaca twitter. Terpaku pada twitzodiak. Tema pertama sifat manusia menurut tanggal lahir. Tanggal 26: suka bertindak gegabah, pandai mengambil keputusan, teliti dan mudah tergoda. Saya percaya dia pandai mengambil keputusan dan teliti.. Tanggal 15: setia kawan, rela berkorban, baik hati, hormat pada orangtua, namun mudah terpengaruh. Kok saya lebih percaya pada yang terakhir saja ya?.. Tema kedua sifat manusia berdasarkan bulan lahir. November: tabah dan kuat dalam menghadapi segala cobaan, agak pemalas. Setahu saya dia kebalikan dari sifat yang terakhir.. Juni: romantis, suka menolong, mudah tersinggung bila perasaannya tersentuh. Lagi-lagi saya percaya yang terakhir itu sifat saya.. Tema ketiga sifat manusia berdasarkan huruf kelahirannya. Kali ini semua huruf digabungkan dan akan menghasilkan beberapa sifat. Karena berdasarkan nickname, maka hasilnya adalah ini. Dia: setia walaupun mudah jenuh, murah hati, punya ciri khas manis dan manis Saya: teman yang apa adanya, murah ha...

Berlabuh

Image
Bisakah seekor burung menjelajah melewati ratusan pulau? Menyeberangi samudra tak bertepi? Melewati gunung-gunung yang mengepul? Mampukah ia manahan pedasnya hujan dengan kedua mata kecilnya? Menembus pesatnya angin hanya dengan kedua sayapnya? Seandainya ia ingin bersandar, bisakah ia berbaring beralaskan awan? Kalau ia berkawan sepi, maukah rangkaian rasi bintang berteman dengannya? Dan ketika malam mencekam, sudikah bulan sang penguasa malam merangkulnya? Dan ketika pagi menjelang, maukah sang mentari menebarkan sebagian sinarnya untuk menerangi perjalanannya? Menyimpan sebagian teriknya ketika matahari tengah meraja? Dan menghangatkan tubuhnya saat matahari pamit dan terbenam? Bagaimanapun, ia hanyalah seekor burung. Yang suaranya tak lagi bergema dalam luasnya angkasa. Yang kepakannya kian melemah ketika hari terus melangkah. Namun ia terus menukik. Menuju satu-satunya daratan tempat ia akan berlabuh. Ke kebisingan yang ia kenal betul. Bersama sekawanan burung berkaki mera...

Tabir Pagi

Entah dari mana kalimat itu akan mengambil posisi startnya. Dimana ia akan memulai dan dimana ia menentukan garis akhirnya. Bagaimana kata-kata itu akan terucap tanpa harus menyakiti hati dan perasaan. Seperti apa penyampaiannya hingga kekacauan yang tidak pernah diundang itu selamanya tiada. Tenggelam bersama masa lalu yang telah lama jauh tertinggal. Yang kutahu aku berhutang separuh hidupku padanya. Dan bayaranku adalah separuh hidupku yang lain. Kuharap saat kupertaruhkan separuh hidupku ini, bukan bayaran mahal yang kuperoleh, melainkan kedua tangan yang terbuka dan menyambutku. Sepasang bahu yang siap menjadi jangkar seandainya perahuku terombang ambing menahan gelombang pedih. Menerimaku, karena memang beginilah Tuhan mengisahkan dan melukis hidupku. Sebuah buku kehidupan yang tidak melulu merupakan penuturan dongeng dengan akhir bahagia. Kuharap, bagimu juga untukku, semua ini nantinya hanya akan menjadi tabir pagi lainnya yang selalu datang setelah malam menutup tirainya. Dan ...

Mimpi Indah

Aku tak sekedar berjalan. Aku telah melayang. Bukan hamparan karpet yang tadi kupijak. Melainkan bentangan pelangi. Yang warnanya tak hanya satu. Tapi kelipatan seribu. Kini aku terbang. Meski tanpa sayap. Hanya kedua tanganku yang mengepak. Meninggalkan bumi. Melewati bintang. Menampaki bulan. Kugenggam erat sebatang bunga. Yang kelopaknya bermekaran. Yang kupetik dari ladang berumput jingga. Kutaruh di saku jiwaku. Untuk kutanam kembali di pekarangan hatiku. Sampai akarnya menguat. Hingga angin takkan kuat merobohkannya. Selamat malam mimpi indah. Saatnya kuterbangun dari dirimu. Mimpimu terlalu indah untuk kuteruskan. Aku takut tak sanggup membangunkan kesadaranku. Yang kemarin biru dan membisu.

Tak Mengerti

Aku semakin tak mengerti jalan hidup ini. Kemana aku akan dibawanya. Semuanya seperti menjauh dari yang kuharapkan. Dari yang kubayangkan. Apa perasaanku selama ini tidak memberitahumu sesuatu? Apa kau begitu angkuh sehingga belas kasihmu begitu mahal? Apa tangisanku belum juga membuktikan apa-apa? Apa bahagiaku hanyalah keinginan yang konyol buatmu? Atau semua ini begitu sulit untuk dimengerti? Aku melangkah, kau hanya termangu di belakang. Aku jatuh, tidak juga kau papah. Seakan aku meyakini sesuatu yang sungguh jauh berbeda darimu. Sebesar inikah kau membenciku sampai-sampai aku kau biarkan sendiri? Sadarkah kalau kemauan tak lagi pernah sama? Kapan kau akan menerima kalau jalanmu bukan sesuatu yang aku cari? Seperti biasa kau tetap membisu meski perasaanku sudah remuk. Bagimu aku tetaplah patung yang akan kau biarkan retak dan hancur. Dan disaat aku sudah separuh napas, kau bawa aku semakin jauh dari anganku. Kau pertemukan dengan satu hal yang bukan juga bahagiaku. Aku kini semaki...

Rindu

Aku rapuh. Aku jatuh. Aku hancur. Seakan tubuhku menjadi ringan lalu ambruk. Jiwaku mendadak kosong. Mimpi buruk yang dulu pernah berkecamuk dalam pikiranku telah menjadi nyata. Bahagiaku seketika sirna dan buyar. Ia telah direnggut dariku. Perjalanan ini akhirnya tiba. Dan dalam langkah sepiku, aku menetaskan kata-kata yang biasanya kuucapkan padanya dalam secarik kertas. Seperti air bah, perasaanku tak bisa terbendung. Kuselipkan beribu kata rindu padanya meski lembaran hari belum juga berganti. Meskipun bayangnya masih terpampang jelas saat kupejamkan mata. Kertas kosong itu kini penuh dengan pesanku padanya. Ia pun telah ternoda meninggalkan bercak air mata. Dari balik jendela, sekumpulan awan melihatku tak mampu membendung tangis. Aku sudah rindu padanya..

Damai

Image
Angkasa pagi itu rupanya melukis biru yang pudar. Warnanya kontras dengan jaket yang kukenakan. Merah menyala. Disaksikan gumpalan awan yang bergurau, aku terus mengayuh kayakku. Di bawah langit biru, aku bergerak. Terus menyisir bibir pantai yang diam membatu. Rasanya damai. Sedamai gelombang yang sunyi hari itu. Sedamai aku yang mengarungi tengah lautan meski disesaki boat-boat besar. "Aku adalah sebuah titik dalam kolam raksasa. Yang menyala, yang tak gentar meski jalanku berliku. Namun aku terus melangkah.."