Posts

Elegi untuk Goygom

Kamu adalah pitik yang sekarang sudah menjadi pitak.. Kalimat yang terucap begitu saja ketika saya melihatnya terbaring di kaki saya. Kedua mata kuningnya hampir terpejam seluruhnya. Mengantuk dan ia nyaris tidak menyisakan bola matanya yang berwujud bulan sabit. Saya pikir dia sudah dewasa, meski saya tidak menghitung usianya seketika lahir dari rahim ibunya. Dulu pitik badannya, sekarang sudah pitak kepalanya. Sungguh usia mencabik tubuh kucing saya. Atau, itukah simbol kedewasaan?..

Mati

Tali bisa betul-betul putus. Rantai bisa tiba-tiba terlepas. Koneksi telepon atau internet bisa disconnect. Begitu jugakah dengan hubungan? Saya merasa matinya sebuah hubungan adalah ketika ia tidak bisa tersambung lagi. Jika demikian berarti hubungan bisa mati di tengah jalan..

Bicara atau Curhat

Pembelajaran terbaik adalah ketika pengalaman menyadarkan saya tentang sesuatu. Kalau saja saya tidak mengalami pengalaman itu, bisa jadi saya tidak akan pernah mendapat pembelajaran yang penting ini. Menarik ketika saya ditegur dalam sebuah obrolan. Saya dibilang tidak lihat inti dari sebuah pembicaraan. Saya juga dibilang menghakimi. Kalau saja tidak terjadi untuk yang kedua kalinya, mungkin saya hanya menganggap masalah ini angin lalu . Dan di saat yang kedua kalinya ini, teguran itu melayang kepada saya. Dimana masalahnya? Saya sadar saat pengalaman itu "berbicara" pada saya. Belakangan, saya lelah ketika orang suka menghakimi saya atas sesuatu yang belum tentu benar. Akhir-akhir ini saya capai mendengar masukan bahkan solusi atas sesuatu yang belum tentu ada. Sampai saya berkesimpulan, saya muak dengan semua ini. Padahal saya hanya ingin bercerita. Saya hanya ingin didengar. Sebaliknya, yang saya dapat adalah saya dicap sebagai "orang yang (selalu) salah". Namu...

Notes

Image
Entah sudah berapa kisah kubuat tanpa sepengetahuan tokohnya. Sudah berapa kata yang kurangkai bagai alunan denting piano. Namun cerita ini belum lagi mencapai akhirnya. Dan tinta ini belum juga mengering...

Disini

Hanya disini, aku bisa mengatakan segalanya. Hanya di dunia tak bertepi ini, aku bisa ungkapkan semuanya. Ketika aku diam, ketika hanya rembulan yang menemaniku, buku kisah itu membuka setiap lembarnya. Satu persatu kisah menorehkan ceritanya. Yang dulu kuselipkan dalam saku hatiku. Setiap halaman membawa kerinduan. Dan aku semakin hanyut dalam lamunan mimpi. Dalam pejaman mataku, semua begitu jelas dan nyata. Aku tersenyum dalam kebisuan ketika bulan mendongengkan kembali kisah itu. Satu kisah yang menelurkan rona bahagia dan air mata. Semua terjahit dalam kenangan yang akan tetap ada. Hanya disini, aku melihat sosokmu. Hanya disini, aku mendengar suaramu. Hanya disini, aku berbicara padamu. Dengan kata-kata yang tak kenal ragu. Lewat kalimat yang telah lama lenyap. Di bawah terang bulan, dengan ditemani angin malam, aku membawa kisahmu bersamaku..

twitzodiak

Iseng membaca twitter. Terpaku pada twitzodiak. Tema pertama sifat manusia menurut tanggal lahir. Tanggal 26: suka bertindak gegabah, pandai mengambil keputusan, teliti dan mudah tergoda. Saya percaya dia pandai mengambil keputusan dan teliti.. Tanggal 15: setia kawan, rela berkorban, baik hati, hormat pada orangtua, namun mudah terpengaruh. Kok saya lebih percaya pada yang terakhir saja ya?.. Tema kedua sifat manusia berdasarkan bulan lahir. November: tabah dan kuat dalam menghadapi segala cobaan, agak pemalas. Setahu saya dia kebalikan dari sifat yang terakhir.. Juni: romantis, suka menolong, mudah tersinggung bila perasaannya tersentuh. Lagi-lagi saya percaya yang terakhir itu sifat saya.. Tema ketiga sifat manusia berdasarkan huruf kelahirannya. Kali ini semua huruf digabungkan dan akan menghasilkan beberapa sifat. Karena berdasarkan nickname, maka hasilnya adalah ini. Dia: setia walaupun mudah jenuh, murah hati, punya ciri khas manis dan manis Saya: teman yang apa adanya, murah ha...

Berlabuh

Image
Bisakah seekor burung menjelajah melewati ratusan pulau? Menyeberangi samudra tak bertepi? Melewati gunung-gunung yang mengepul? Mampukah ia manahan pedasnya hujan dengan kedua mata kecilnya? Menembus pesatnya angin hanya dengan kedua sayapnya? Seandainya ia ingin bersandar, bisakah ia berbaring beralaskan awan? Kalau ia berkawan sepi, maukah rangkaian rasi bintang berteman dengannya? Dan ketika malam mencekam, sudikah bulan sang penguasa malam merangkulnya? Dan ketika pagi menjelang, maukah sang mentari menebarkan sebagian sinarnya untuk menerangi perjalanannya? Menyimpan sebagian teriknya ketika matahari tengah meraja? Dan menghangatkan tubuhnya saat matahari pamit dan terbenam? Bagaimanapun, ia hanyalah seekor burung. Yang suaranya tak lagi bergema dalam luasnya angkasa. Yang kepakannya kian melemah ketika hari terus melangkah. Namun ia terus menukik. Menuju satu-satunya daratan tempat ia akan berlabuh. Ke kebisingan yang ia kenal betul. Bersama sekawanan burung berkaki mera...