Posts

Pencapaian

Tak berapa lama lagi tahun akan berganti. Ironis, tutup tahun juga berarti beranjaknya waktu untuk kembali menempuh perjalanannya yang entah berujung dimana. Namun sebelum semuanya betul-betul berakhir, dan di setiap penghujung tahun, setiap orang selalu bertanya satu hal. Pencapaiannya selama ini. Setahun adalah waktu yang cukup untuk mereflesikan pencapaian itu. Entah itu pencapaian materi atau pertumbuhan diri. Layaknya medali yang berhasil disabet atlit, pencapaian bisa jadi sesuatu yang dianggap berhasil atau diperhitungkan berarti. Anehnya, selengkap apapun pencapaian itu, sebagian orang masih merasa apa yang diraihnya belum utuh betul. Alih-alih puas, mereka justru merasa kosong seakan-akan pencapaian itu tidak membanggakan. Apakah pencapaian itu terlalu mudah diraih sehingga kehilangan artinya? Apakah baru bisa dinamakan pencapaian jika diraih lewat tantangan yang hebat? Apapun, waktu terus bergulir dan sesaat lagi menembus tahun 2012. Segala bentuk pencapaian itu pasti ada. Se...

Suara Hati

Perkusi jika tidak dipukul, tidak akan mengeluarkan nada indahnya. Gelas jika tidak saling dibenturkan, takkan punya arti lebih dari sekedar kumpulan beling. Angin jika tidak bertiup, tidak bisa memamerkan gemuruhnya yang gagah. Begitu juga dengan suara hati. Ia memiliki kata yang indah. Bunyi yang merdu. Yang asli tanpa disadur. Namun jika dibiarkan diam, dia akan mengantuk dan tertidur. Suaranya akan gugur seperti dedaunan yang rontok di musim dingin. Dan dia akan bersembunyi untuk sekian lama waktu. Namun terkadang suara hati tidak harus berisik dan hanya perlu berbisik. Berkumandang dalam sunyi. Berbicara dalam hening. Dan dalam kesenyapan itu, ia dapat mengeluarkan nada terbaiknya. Seperti lantunan irama perkusi atau suara deru sepoi angin di siang hari. Begitulah suara hati. Ia bisa menanti dalam persembunyiannya, sampai tiba waktunya ia bersuara kembali.

Kehilangan, Kesedihan, Kematian

Semua hal tentangnya tidak pernah membuat mudah. Kehilangan. Kesedihan. Kematian. Begitu banyak energi yang harus dikeluarkan untuk bisa memaklumi kondisi itu meski sesulit apapun kita memahaminya. Dan ketika keadaan tidak lebih mudah, ia datang tiba-tiba. Saya tidak pernah pintar menghadapi kehilangan, kesedihan bahkan kematian. Yang saya tahu, semua itu selalu berujung pada tangisan. Meski sekali saya pernah ditinggal seseorang dan mata saya tetap kering. Tidak ada banjir air mata, sebaliknya saya hanya diam. Dan diam buat saya adalah yang terbaik saya lakukan untuk hadapi itu semua. Katanya, semua akan kembali seperti semula. Tapi pernahkah terpikir berapa lama waktu untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala? Sulitnya membalikkan sesuatu ke keadaan yang sudah tidak sama. Saya belum bisa. Kejadian hari ini membuktikan reaksi saya belum juga berubah. Bahwa semua ini tidak akan pernah mudah. Dan memahaminya adalah hal terakhir yang saya lakukan. Buat kamu. Percayalah, semua akan b...

Sayap

Image
Saya tahu ada sepasang sayap tertanam di pundak saya. Menancap dan menarik perhatian banyak orang. Mereka mulai mendatangi saya. Menatap lekat pada kedua sayap putih itu. Terpesona dengan kepakannya yang hebat. Mereka mulai bercerita. Tentang beban yang dianggap berat untuk dipikul seorang diri. Tentang kisah pilu juga bahagia. Lalu sayap itu semakin terasa berat. Menyakiti saya dengan luka yang mulai merambat di pundak. Dan ketika kedua sayap itu berhenti mengepak, semua orang seakan lenyap. Tinggal saya dan kedua sayap yang telah layu. Meski mulai rontok, saya tahu, adalah kesalahan bila sayap itu saya tanggalkan. Tidak benar jika sayap itu dipatahkan. Mereka harus pulih kembali dan mengibas. Karena setiap kepakannya akan menuai kisah pilu dan bahagia kembali.

Petik Hati

Image
Mengambil hati. Itu yang sedang saya lakukan. Di saat kata maaf tidak lagi cukup, saya butuh pohon hati. Akan saya petik satu hati. Yang berwarna merah menyala. Yang dari kejauhan seperti buah apel ranum. Hati itu takkan menjadi milik saya, tapi minimal hati merah menyala itu akan saya jaga. Biar tidak lagi terluka. Biar tidak perlu diperban. Karena hati itu terlalu berharga buat saya jika ia harus terus menerus cedera. Di depan saya pohon hati yg jangkung. Meski sulit, saya berusaha memetik satu hati. Takkan saya miliki, namun jika boleh, kan ku jaga..

Kisah Jendela

Image
Duduk dengan kepala bersandar di jendela bis kota, angin dingin sisa hujan membenamkan saya pada kesibukan di luar jendela. Sore itu kota menampakkan pemandangannya yang tidak asing. Mobil berserakan memadati jalan yang sebagian basah oleh hujan. Beberapa kendaraan berjalan serabutan. Ingin menyalip satu sama lain. Seperti kakimu yang terburu-buru meski tidak sedang memburu sesuatu. Beberapa kali saya melebarkan langkah supaya tak tertinggal dan akhirnya berhasil merapat disampingmu. Klakson yang nyaring membawa saya kembali. Saat saya sadar, jendela tempat saya bersandar sedang menuturkan kisah lain. Di luar, kemacetan mulai meranggas di malam yang belum seberapa. Awan yang menggantung malah masih menyisakan warna abu-abu sore. Bus saya berhenti tepat di atas zebra cross. Penyebrangan itu jelas tak berfungsi lagi karena tidak tampak orang yg menyebranginya. Ia hanya sebatas sketsa garis terputus di tengah jalan seperti gambar yang belum tuntas dibuat. Seharusnya kerumunan orang ...

Basah Hujan

Image
Saya ingat berjalan cepat menghindari rintik hujan. Belum deras, tapi saya sudah khawatir kebasahan. Tidak seperti mereka, saya menyadari itu. Jalan tetap dengan ritme yang sama. Cepat dan teratur. Seakan kaki mereka menempel di jalur rel yang lurus rata. Tidak ada yang berlari takut kuyup. Payung-payung juga belum dikibarkan. Sementara saya sudah sibuk cari tempat berteduh. Apa karena saya takut basah? Atau saya alergi dengan hujan di negeri orang? Mereka seperti tidak menggubris langit yang mengguyur tubuh mereka. Tidak peduli jas kerja apik mereka bakal lusuh dan dandanan mentereng mereka mungkin luntur. Saya yang cuma berkemeja malah ribet mengurusi bagaimana saya tetap kering meski tampilin saya jauh dari glamour. Sekarang sudah masuk musim hujan. Hujan sudah pasti akan rutin mengguyur kota ini. Dan setiap hari saya kemungkinan bakal akrab dengan basah dan becek. Seharusnya saya bukan lagi orang yang anti basah.