Posts

Bukan lagi mie instan

Kata Instan sekarang bukan lagi milik mie (mie instan). Instan sekarang sudah menjamur ke berbagai hal. Ada transportasi instan: ojek, ada uang instan: ATM, dan sekarang ada pasangan instan: online dating. Dulu, calon pasangan kadang dicari lewat pertemanan. Bisa saling curi-curi pandang, tatap-tatapan, bikin wajah merah merona macam tomat kelewat matang, bikin jantung meledak-ledak. Sekarang, proses lucu unyu-unyu itu tinggal sejarah. Mencari pasangan kini bisa dilakukan lewat jalan pintas atau jalan tikus. Tinggal donlot aplikasi online dating di smart phone, seseorang bisa mendapatkan pasangan disana tanpa harus pasang perasaan lebih dulu. Tinggal klik foto-foto yang terpampang disana. Kalau kata SPG toko, "dipilih, dipilih" foto yang wajahnya paling disuka. Cara memilihnya juga instan. Geser ke kiri, geser ke kanan. Klik foto yang disuka. Geser lagi, ke kiri, ke bawah. Ada lagi yang disuka, klik lagi. Ulang lagi, geser-geser dan klik-klik lagi. Tangan saja yang beke...

Sepotong lagu

Image
Ga rugi karaoke lagi. Selain ngilangin pikiran gaduh, ketemu lagu-lagu yang pernah saya dengar, tapi ga tahu siapa penyanyinya, Salah satunya "Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi". Ternyata HIVI toh.. Apa yang tidak enak dengan lagu ini. Iramanya cocok di telinga, liriknya mudah dicerna, dan the best-nya, kisah lagunya menohok hati. Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi. Tidak tahu dengan kalian, tapi bagi saya, ini tipe lagu yang melontarkan sebuah pertanyaan yang perlu dijawab dengan pertanyaan lagi (meski pakemnya, dilarang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Pamali): 1. Kalau siap, dengan siapa? 2. Kalau siap, akankah "gayung bersambut?" 3. Kalau siap, harus bersikap bagaimana? 4. Kalau siap, haruskah waspada untuk kembali sakit hati? 5. Kalau siap, apakah dia orang yang tepat untuk kau berikan hatimu? Hati. Iya, hati. Satu-satunya organ yang memancarkan ketulusan, kepolosan, kejujuran, dan kemurnian lebih dari susu yang baru diperas...

Orgasme

Dia telah berdiri di depanku. Pemandangan indah yang membuat mataku jatuh dan terpaku padanya. Aku dibuat tunduk olehnya. Ia membius dan mengajakku untuk menyentuhnya, untuk merasakan setiap seluk beluk tubuhnya. Hebatnya, aku tidak bisa menolak. Aku semakin terjerat olehnya. Ia membawaku menembus hingga ke jiwanya. Ia membelai juga mencengkramku erat. Tiba-tiba aku merasakan kenikmatan di sekujur tubuhku. Aku seperti melayang. Tanganku bergetar akibat keseruan ini. Wajahku mulai basah oleh butir-butir keringat. Tanpa kusadari, napasku mulai berderu sangat cepat, seakan menyedot setiap sisa udara yang ada. Denyut jantungku berdebar cepat. Aku tidak kuasa menahan segala adrenalin yang keluar begitu cepat dari tubuhku. Aku ingin berteriak histeris. Namun saat suaraku mulai mengambang di ujung bibirku, tiba-tiba sebuah mobil menyerempet sepedaku hingga berjalan sempoyongan di jalanan sempit yang diapit kendaraan-kendaraan macet malam itu. Alih-alih terjatuh, aku berhasil menguasai sepedak...

Hilang harapan atau waras?

Belakangan melihat kisruhnya Jakarta, yang macet, yang infrastruktur lama kelarnya, yang banjir atau genangan muncul saat hujan belum lagi deras-derasnya, jujur, saya mengaku dan sempat terucap, "Saya khawatir kehilangan harapan dengan kota ini". Namanya manusia yang lahir dari generasi yang kelelahan akibat segudang problema, saya terbawa arus yang mengedepankan hal-hal buruk diatas kebaikan yang tersembunyi. Di tengah pilihan antara kehilangan harapan dan kembali waras, saya blusukan di kota ini sambil mencari-cari kebaikan dari setumpuk keburukan yang menggunung. Satu yang saya sadar bahwa kota ini sedang berusaha untuk berbudaya di tengah terperosoknya moral dan manusianya macam kecelakaan Kapal Titanic. Peristiwa seperti festival musik, festival makanan, teatrikal yang adegannya banyak mengkritisi pemerintah, pameran sampai pertandingan olahraga kelas kandang maupun dunia, bisa jadi hanya sebuah lipstik untuk mempercantik kota yang slogannya (menurut saya harus digan...

Lenyap

Dari sekian banyak serdadu mimpi, tidak satupun aku berharap kamu berdiri di hadapanku. Serupa dengan sosok yang terekam terakhir kali di ingatanku. Tapi saat kamu disana, ketika menatapmu lagi setelah tahunan berlalu, aku lega karena itu akhir dari serbuan mimpiku, yang berlalu dalam sekejap sambil membawa satu tanya yang ikut lenyap. *Sebuah kisah tentang kotak pandora

Sebuah Kecupan

Image
Sebuah kecupan mengusir rasa penasaran. Membangkitkan pertanyaan yang jauh dari jawaban. Sebuah kecupan melahirkan beragam mimpi. Mengisi ruang yang lama berakrab dengan hampa. Sebuah kecupan memporakporandakan perasaan. Menimbulkan satu rasa yang hanya bersarang di relung hati.
Image
Pertemuanku dengannya sudah cukup lama. Agustus lalu di kebun kosong yang tidak terawat. Banyak ilalang tumbuh semrawut dan sampah berserakan. Mendengar aku mendekat, ia yang tadinya berbaring, langsung duduk tegak. Wajahnya ramah, seperti manusia yang sedang tersenyum lebar. Ekornya mengibas ke kiri dan kanan. Aku merasa cukup aman untuk mendekatinya. Ia terikat di batang pohon yang telah mati. Hanya ranting-ranting kering tanpa daun. Padahal saat itu musim kemarau. Panasnya luar biasa. Anjing itu disana sendiri. Tanpa makanan, tanpa minuman. Hepi. Itulah namanya. Sejak melihat wajahnya, aku tidak bisa tidak memberi nama anjing jantan itu dengan nama Bahagia (dalam bahasa Inggris). Usianya sekitar 1-2 tahun dengan tubuh berwarna loreng coklat dan hitam. Orang bilang coraknya buduk alias burik, tapi ia sungguh anjing manis yang manja dan pintar.  "Salam," kataku, sembari menyodorkan tanganku yang langsung disambut dengan kaki kiri depannya diangkat untuk menyalamiku...