Posts

Tersudut

Aku bukan selebriti atau tokoh, tapi semua orang tengah membicarakanku. Aku tidak mau menjadi sorotan, tetapi semua mata seakan tertuju padaku. Aku bukanlah seorang petinju, tapi aku merasa tersudut. Lebam dan memar tanpa sebab. Aku yang telah berkawan banyak, perlahan semua orang seperti berbalik memunggungiku. Siap melangkah dan pergi jauh. Lupa terhadap apa yang mereka kenal. Yaitu diriku, bukan segelintir pikiran yang sebatas pada bayangan. Lalu aku diam, lebih baik membisu tak bersuara. Setiap kata yang kulontarkan seperti menguap. Dibakar amarah yang hanya menyisakan kebencian.

Kalau saja

Kalau saja mentari dapat bersinar sepanjang hari, hidup tidak akan kaku dan membiru. Sinarnya akan menguras redupnya hati dari benci yang kekal. Kalau saja rembulan dibiarkan berwarna, malam akan penuh corak. Bukan lagi hanya hitam dan putih. Tidak lagi tentang benar dan salah.   Kalau saja damai tumbuh bagai ilalang yang merambat, dunia akan bertabur kenyamanan. Tidak lagi ada permusuhan. Tidak lagi penuh kebencian. Cinta itu benar ada. Hanya kita terlalu angkuh untuk menyadarinya.  

Camilan

Malam yang berawal sunyi senyap tiba-tiba menjadi hingar bingar. Terusik oleh suara-suara berisik dari canda tawa. Perut seakan meronta digoyang banyolan-banyolan dan obrolan tidak penting. Membuat malam kian menggelikan dan ramai. Bukannya terbius oleh kantuk, obrolan malah terus mengalir. Macam pohon dengan ranting tak bertepi, cerita jadi bercabang-cabang. Menghibur hingga ke larut malam. Kantuk yang tadinya menghantui, lenyap seiring putaran jarum jam. Terkadang sulit untuk membiarkan malam seperti sebelumnya. Yang sunyi, sepi, juga tentram. Susah untuk membiarkannya tertidur pulas. Sebaliknya malam harus meriah. Harus berlaga di bawah sorotan purnama. Malam harus konstan berpesta. Pesta yang hanya dihadiri kamu dan aku. *Untukmu yang ada di tengah laut

Waktu

Image
Waktu bukan sekedar angka buatku. Tidak hanya sederet nomor digital yang bisa dihitung dan suatu ketika dapat berakhir layaknya sebuah masa. Bukan itu. Waktu buatku berarti lebih dari itu. Ia adalah segalanya yang saat ini kuberikan untukmu disaat hidupku belum utuh untukmu. Meski singkat, waktu yang terbatas ini akan tetap kujaga agar tetap berharga karena ia juga berarti untukmu. Waktu adalah milikku yang tidak sempurna, yang kini kuberikan untukmu 'tuk sempurnakan hidupmu. 

Terpleset

Mataku jahil menyusuri wajahnya. Menatap matanya yang kurasa balik melucuti wajahku. Ia tersenyum, memperlihatkan bibirnya yang berwarna merah ranum. Sekejap kubayangkan, betapa nikmat kalau kukulum bibirnya. Seperti apel, warna merahnya sungguh menggoda. Untuk kugigit pelan, untuk kulumat penuh gairah. Bayangan nakal itu tiba-tiba menghilang seiring dengan kerumunan orang yang muncul di dekatku. Terpaksa kukantongi kembali pikiran yang mengusikku. Entah, ada sesuatu dengannya yang membuat kedua mataku terpaku padanya. Di hadapan wajahnya, aku kecup kedua pipinya yang penuh bintik. Menyentuh pipinya yang tembam dan lembut seperti bantal. Dan di tengah pikiran jahilku, kubiarkan bibirku terpleset menyentuh kedua ujung bibirnya.

Bukan lagi mie instan

Kata Instan sekarang bukan lagi milik mie (mie instan). Instan sekarang sudah menjamur ke berbagai hal. Ada transportasi instan: ojek, ada uang instan: ATM, dan sekarang ada pasangan instan: online dating. Dulu, calon pasangan kadang dicari lewat pertemanan. Bisa saling curi-curi pandang, tatap-tatapan, bikin wajah merah merona macam tomat kelewat matang, bikin jantung meledak-ledak. Sekarang, proses lucu unyu-unyu itu tinggal sejarah. Mencari pasangan kini bisa dilakukan lewat jalan pintas atau jalan tikus. Tinggal donlot aplikasi online dating di smart phone, seseorang bisa mendapatkan pasangan disana tanpa harus pasang perasaan lebih dulu. Tinggal klik foto-foto yang terpampang disana. Kalau kata SPG toko, "dipilih, dipilih" foto yang wajahnya paling disuka. Cara memilihnya juga instan. Geser ke kiri, geser ke kanan. Klik foto yang disuka. Geser lagi, ke kiri, ke bawah. Ada lagi yang disuka, klik lagi. Ulang lagi, geser-geser dan klik-klik lagi. Tangan saja yang beke...

Sepotong lagu

Image
Ga rugi karaoke lagi. Selain ngilangin pikiran gaduh, ketemu lagu-lagu yang pernah saya dengar, tapi ga tahu siapa penyanyinya, Salah satunya "Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi". Ternyata HIVI toh.. Apa yang tidak enak dengan lagu ini. Iramanya cocok di telinga, liriknya mudah dicerna, dan the best-nya, kisah lagunya menohok hati. Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi. Tidak tahu dengan kalian, tapi bagi saya, ini tipe lagu yang melontarkan sebuah pertanyaan yang perlu dijawab dengan pertanyaan lagi (meski pakemnya, dilarang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Pamali): 1. Kalau siap, dengan siapa? 2. Kalau siap, akankah "gayung bersambut?" 3. Kalau siap, harus bersikap bagaimana? 4. Kalau siap, haruskah waspada untuk kembali sakit hati? 5. Kalau siap, apakah dia orang yang tepat untuk kau berikan hatimu? Hati. Iya, hati. Satu-satunya organ yang memancarkan ketulusan, kepolosan, kejujuran, dan kemurnian lebih dari susu yang baru diperas...