Posts

Jejak

Pasir membentuk seluas alas kakiku. Menampakkan iring-iringan jejakku yang berbaris seperti serdadu. Setia mengikuti langkahku yang kutenggelamkan terbenam di dalam pasir. Lembutnya butiran pasir kurasakan menempel di kakiku. Begitu halus, sampai hangatnya air laut menanggalkan setiap butirannya dari kakiku.   Aku terus berjalan dengan sesekali menengok ke belakang. Jejakku menghilang. Disapu air laut yang datang dan pergi. Kulihat kembali ke depan. Pasir membentang seluas pandanganku. Menunggu setiap jejak yang akan kubenamkan di lautan butiran pasir.   Di dekatku, air laut menderu. Seakan berseru untuk kembali menghapus jejakku.    

Mengejarmu

Aku mengikuti langkahmu di jalan penuh batu. Langkahmu panjang dan menyepak bebatuan. Aku tertinggal bersama serpihan batu yang pelan-pelan berusaha kubuang. Kutendang agar menjauh dari jalan itu, dari hadapanku. Hanya untuk mengejar langkahmu. Yang panjang dan lebar. Kadang kau berjalan terlalu jauh. Meninggalkan sosok bayangan di kejauhan. Sementara Aku masih tertinggal. Mencoba melampiaskan kerikil yang masih tercecer di jalan. Di jalan yang semakin berkelok dan berbelok. Aku terus mencoba menyongsongmu yang kini setengah berlari. Entah bayangmu atau dirimu yang akan kutemui.  

Memecah keheningan

Disana aku berdiri, di saat yang lain terduduk dan sibuk memecah hening ruangan. Waktu yang bergulir pelan berlalu disampingku. Setia menemani kekosonganku yang buyar saat kau hadir. Engkau tiba tanpa kata.  Hanya senyum yang menyapaku dengan bisu.  Meski ketika kita bersama, tidak ada satupun kata yang terlewat. Tidak ada cerita yang tak usai. Tidak ada tawa yang gagal memecah keheningan.

Belum saatnya

Setiap lembar kertas, seharusnya diisi dengan hal baru. Kejadian yang menyenangkan, yang mengundang senyum dan tawa, yang mencurahkan tangis bahagia. Setiap cerita seharusnya luput dari rintik air mata. Lepas dari emosi yang melelahkan, mandiri dari perasaan terbelenggu, terhindar dari rasa kebingungan. Mungkin kini belum saatnya. Mungkin waktu yang akan menjawab kapan sebuah kisah akan menuturkan keceriaan, kegiarangan, kesukacitaan. Jika waktu memperbolehkan.  

Hadiah yang mulia

Seharian bahkan seminggu aku memintal kata. Menalinya agar menjadi satu kalimat yang sangat sederhana, mudah dicerna, dan tulus. Satu kalimat yang terbebas dari hiasan kata yang bisa menjerumuskannya pada arti kebablasan. Tidak, aku tidak mau itu. Ini adalah produk kejujuran dari hati yang paling dalam. Dari sebuah nurani. Ini adalah separuh dari jiwaku yang sedari dulu bersembunyi dan terpendam. Jika bukan sekarang, suatu hari hadiah terindah ini akan kuberikan  pada orang terkasih.  Dia yang menurunkanku dari langit. Mengajarkanku menapak bumi, bicara, dan menyayangi mahluk yang sama denganku. Ini adalah aku. Dan kini kuberikan padamu dengan sepenuh jiwa. Tanpa balasan imbalan, tanpa syarat. Hanya engkau menerima hadiahku.  

Kasak kusuk

Pagi-pagi menuju sebuah kantor. Lorongnya gelap. Belum banyak orang, syukurlah. Sedang malas juga bertemu manusia. Masuk ke sebuah ruangan. Belum banyak orang, kembali bersyukur. Lampunya redup. Ada mesin karcis antrian, tapi saya lewati. Orang yang mau saya temui sudah di depan mata. Terjadi pembicaraan delapan mata. Saya tidak sendiri, ada seorang teman. Suara kami begitu pelan sampai suara AC terdengar bising saat mengeluarkan hawa dingin. Terjadi kasak kusuk pagi itu. Obrolan yang tidak ingin terdengar. "Bangun," katanya. "Awas," bilangnya. "Selesaikan di lapangan," katanya lagi. 30 menit kemudian saya berlalu keluar dari ruangan. Pesan itu sudah tersampaikan.  

Di suatu malam

Mungkinkah alam sedang menangis? Air matanya seperti tak kunjung henti. Bumi dibuat basah dan gelap sebelum waktunya. Deru tangisnya terdengar gaduh di angkasa. Sampai-sampai memekakkan telinga yang mendengarnya. Atau ia sedang marah? Kilatnya menyambar-nyambar seperti juru foto yang sibuk membidik sasaran. Tak heran awan menjadi terang meski gelap gulita. Menampakkan wajah yang garang. Itulah yang terjadi di suatu malam. Saat aku sedang berlari mengosongkan pikiran. Tangis alam membasahi sekujur tubuhku. Meresap masuk ke dalam jiwa dan melebur menjadi satu. Jika saja alam bisa mengosongkan pikirannya, air matanya tentu takkan jatuh , pikirku sembari berlari semakin jauh.