Posts

Oleng

Aku terayun. Ke kiri dan ke kanan. Oleng. Seperti berdiri di atas perahu diatas gelombang. Aku jadi sulit berpijak. Tidak ada yang menahanku. Segalanya bergerak. Seringkali hampir terjatuh. Beruntung aku masih bisa mencengkram sesuatu. Apa saja yang bisa kupegang. Entah asa atau impian. Sebelum keduanya jatuh tenggelam.

Mengira

Beberapa kali kupejamkan mata. Mengira apa rasanya hariku yang kosong tanpamu. Beberapa kali kalimat itu kulatih. Mengira apa reaksimu saat kuperdengarkan. Beberapa kali kucoba 'tuk tersenyum. Mengira apa kesedihan itu 'kan segera berakhir. Beberapa kali aku mencoba untuk menerima. Mengira seberapa tulus kumelepasmu.   

Di Atas Angin

Ingin sekali-kali berada di atas angin. Menghirup udara yang lembut. Memejamkan mata sambil tersenyum. Mengosongkan pikiran. Mengusir rasa risau. Sayang, saat itu belum kunjung tiba.

Sebuah Angan

Sayang, aku ingin berlari bersamamu. Tak perlu mencari jarak jauh. Tak perlu melintas jalan yang sulit. Aku hanya ingin lari disampingmu. Menghirup udara bebas, menari di pijakan tanah merah, merasakan semburan angin. Sayang, larilah bersamaku. Dengan kamu disampingku. Dengan bintang menyinari langkah lebar kita. Dengan hujan yang hampir menghampiri. Biarlah yang lain mengikuti. Biarkan mereka mengejar. Sampai jarak akhirnya memisahkan kita. Sampai lelah menguras keringat.

Kalem

Bagaimana caranya menjadi kalem, padahal Tuhan sudah menurunkan hujan agar hati tetap tenang, tetapi hati masih saja merajuk. Padahal satu buku tentang pembuka hati sudah kau baca habis, tetapi kisahnya belum juga kau serap dan pahami. Padahal kau sudah berjanji menjadi lebih bijak saat usiamu bertambah setahun, tapi tingkah lakumu malah mundur 10 tahun. Kalem. Kata yang pendek namun sungguh bermakna. Kalau sudah begini, mending tinggal tidur dan berharap besok hujan runtuh di atas kepalamu sampai menjadi adem. Mungkin saat itu kau menjadi kalem. *Sebuah kisah tentang perasaan ambek

Geger (Ep. 2)

Satu persatu mereka datang. Waktunya jarang bersamaan. Kadang gantian. Kadang rombongan. Sirkus saja kalah ramai. Mereka malah suka muncul tiba-tiba. Entah dari mana. Satu-satu, kadang bebarengan. Semua terserah mereka mau datang dengan siapa. Mereka tiba dengan wajah memelas, bersuara lantang dan berisik. Nyaring seperti piring pecah. Rombongan tanjidor saja kalah gaduh. Meski tidak sedang berdemo, mereka sehati dan sepakat untuk meneriakkan satu kata, "Lapar!". Sudah datang tak terduga, bertandangnya tanpa sopan santun. Tidak satupun yang mengucap salam, apalagi bertukar kabar. Mereka langsung berhamburan masuk, ngacir menuju satu tempat. Dengan sekali endus, tanpa perlu radar, mereka tahu letak harta karun yang dicari. Sebungkus makanan kucing yang saya bungkus rapi, anti gores, anti robek, anti dicabik-cabik, dan anti-anti lainnya. Kejadian geger ini baru selesai episodenya setelah mereka melahap bayangan mereka yang sudah menjadi santapan terindah dalam hidup...

Milik Bersama (Ep. 1)

Jejak-jejak kecil. Menyusuri, mengitari ruangan. Menyelonong kesana kemari. Meninggalkan coretan di lantai. Membuat rute jejak yang sembrono. Tampaknya ada yang sibuk. Entah mencari apa. Jelas mereka menyusup ke ruangan. Satu jendela kedapatan terbuka. Ketahuan cara mereka masuk. Serbuan jejak kecil. Tapak itu tidak hanya satu. Besarannya berbeda, jejaknya dimana-mana. Sepertinya mereka bangga mempertontonkan gerak geriknya. Sebuah aksi tanpa saksi mata. Tinggal saya sendiri. Berdiri menatapi lantai yang sehari sebelumnya saya poles rapih. Bersih dan wangi. Bercak tanah bermotif telapak-telapak kaki kucing menjadi satu pertanda. Rumah saya milik mereka juga.