Kau terlahir sebagai manusia tak sempurna. Kau pun berbeda denganku. Kau lakukan segudang kesalahan di saat kejayaanmu. Perilakumu juga kadang mengesalkan banyak orang. Kau pun mungkin jauh dari sosok idola. Tapi sesuatu yang kau lakukan telah mengubah segalanya. Kau buatku bangga. Kau bahkan buatku merasa memiliki lagi apa yang sudah tidak kuharapkan dan kubayangkan. Napas pada masa depan dan harapan yang nyata. Kau perlahan tunjukkan kota tempatku besar bergerak tumbuh, maju dengan pesat. Kau libas korupsi yang telah lama gerogoti kota ini. Kau buktikan tanah ini, rumput ini tak kalah hijau dari rumput seberang. Terima kasih atas segala kemungkinan yang dulu tiada, kini nyata di depanku. Terima kasih kau gerakkan lagi hatiku yang dulu mati membatu karena pupus sosok tumpuan. Kau ternyata ada dari seribu yang tiada. Dan kau tetap setia saat mereka menolakmu. Sebuah tulisan untuk Ahok
Rasa itu masih saja melekat. Dia yang belum juga beranjak sejak terakhir hadir jadi bagian dariku. Kebodohan berulang yang kembali menyudutkanku pada penyesalan teramat dalam. Sungguh kuingin bisa mengatur waktu. Agar saat itu tak pernah ada. Agar aku tidak menyakitinya. Kini yang tersisa hanya rasa kecewa. Kekesalan dan buat dirinya pergi. Ingin kuobati hatinya yang luka dengan beribu kata maaf. Satu kata yang sering kuungkapkan, tapi masih berarti untukku. Semoga juga untuknya. Meski kata itu mungkin tidak cukup buatnya kembali, kuharap ia merasakan kesungguhan ini. Maafkan aku
Rembulan, aku ingin bercerita tentang cinta. Lihatlah kau ke bawah. Ada hamparan sinar yang menyala dari ratusan sumbu lilin. Cahayanya tak kalah terang darimu. Menerangi malam ini. Menyinari setiap jiwa yang hadir malam itu, begitu pula jiwaku. Rembulan, aku ingin kau tahu tentang cinta. Kaulah saksi kasih yang mekar di tengah gulita malam ini. Ketika sunyi seharusnya datang, deru cinta sebaliknya hadir bergemuruh. Melodi indah mengusung nyanyian bagi Nusantara yang bersatu dibawah kepakan sayap gagah Garuda. Rembulan, rasakanlah gaduhnya cinta ini. Dipersembahkan untuk ibu pertiwi. Negeri tempat kami berpijak, tanpa kuasa memilih warna kulit, tanpa bisa memilih suatu bangsa. Dibawahmu, kami adalah satu. Dengan saksimu, kami berpijak di tanah yang satu. Kami Indonesia
Comments