Friday, December 02, 2016

Jangan nodai Jakarta

Hari ini Jakarta seperti kota suci. Jantung ibukota menjadi serba putih berserukan doa. Massa berbondong ingin beraksi damai. Kalau saja massa tidak penuh sesak, mereka pasti sudah memutari Monas yang ibarat Ka'bah hari itu. Berita menyebutnya aksi super damai. Saya menyebutnya peristiwa yang layak masuk daftar sejarah Jakarta. Bagaimana tidak, satu orang bisa menyatukan ribuan orang. Berkumpul jadi satu.

Dari kejauhan, saya melihat kota kelahiran saya. Berharap darah tidak tumpah menodai warna putih yang ada. Berharap bukan darah yang menggenangi kota Jakarta, melainkan hujan yang turun. Biarlah kota saya tetap adem, seperti yang terjadi kalau musim hujan tiba.

Dari kota sebelah, perasaan saya campur aduk. Khawatir dengan apa yang bisa saja terjadi. Ribuan orang berkumpul, kadang berakhir tawuran. Beruntung, ketakutan saya sirna. Aksi damai lancar, saya pun mengucap syukur.

Hari ini Jakarta tidak ternodai.

Tuesday, September 20, 2016

Jejak

Pasir membentuk seluas alas kakiku. Menampakkan iring-iringan jejakku yang berbaris seperti serdadu. Setia mengikuti langkahku yang kutenggelamkan terbenam di dalam pasir. Lembutnya butiran pasir kurasakan menempel di kakiku. Begitu halus, sampai hangatnya air laut menanggalkan setiap butirannya dari kakiku.  

Aku terus berjalan dengan sesekali menengok ke belakang. Jejakku menghilang. Disapu air laut yang datang dan pergi. Kulihat kembali ke depan. Pasir membentang seluas pandanganku. Menunggu setiap jejak yang akan kubenamkan di lautan butiran pasir.  

Di dekatku, air laut menderu. Seakan berseru untuk kembali menghapus jejakku.



   


Sunday, September 18, 2016

Mengejarmu

Aku mengikuti langkahmu di jalan penuh batu. Langkahmu panjang dan menyepak bebatuan. Aku tertinggal bersama serpihan batu yang pelan-pelan berusaha kubuang. Kutendang agar menjauh dari jalan itu, dari hadapanku. Hanya untuk mengejar langkahmu. Yang panjang dan lebar.

Kadang kau berjalan terlalu jauh. Meninggalkan sosok bayangan di kejauhan. Sementara Aku masih tertinggal. Mencoba melampiaskan kerikil yang masih tercecer di jalan.

Di jalan yang semakin berkelok dan berbelok. Aku terus mencoba menyongsongmu yang kini setengah berlari. Entah bayangmu atau dirimu yang akan kutemui.



 

Sunday, July 17, 2016

Memecah keheningan

Disana aku berdiri, di saat yang lain terduduk dan sibuk memecah hening ruangan.
Waktu yang bergulir pelan berlalu disampingku.
Setia menemani kekosonganku yang buyar saat kau hadir.

Engkau tiba tanpa kata. 
Hanya senyum yang menyapaku dengan bisu. 
Meski ketika kita bersama, tidak ada satupun kata yang terlewat. Tidak ada cerita yang tak usai. Tidak ada tawa yang gagal memecah keheningan.




Tuesday, July 12, 2016

Belum saatnya

Setiap lembar kertas, seharusnya diisi dengan hal baru. Kejadian yang menyenangkan, yang mengundang senyum dan tawa, yang mencurahkan tangis bahagia.

Setiap cerita seharusnya luput dari rintik air mata. Lepas dari emosi yang melelahkan, mandiri dari perasaan terbelenggu, terhindar dari rasa kebingungan.

Mungkin kini belum saatnya. Mungkin waktu yang akan menjawab kapan sebuah kisah akan menuturkan keceriaan, kegiarangan, kesukacitaan. Jika waktu memperbolehkan.  

Saturday, May 14, 2016

Hadiah yang mulia

Seharian bahkan seminggu aku memintal kata. Menalinya agar menjadi satu kalimat yang sangat sederhana, mudah dicerna, dan tulus. Satu kalimat yang terbebas dari hiasan kata yang bisa menjerumuskannya pada arti kebablasan. Tidak, aku tidak mau itu.


Ini adalah produk kejujuran dari hati yang paling dalam. Dari sebuah nurani. Ini adalah separuh dari jiwaku yang sedari dulu bersembunyi dan terpendam. Jika bukan sekarang, suatu hari hadiah terindah ini akan kuberikan pada orang terkasih. Dia yang menurunkanku dari langit. Mengajarkanku menapak bumi, bicara, dan menyayangi mahluk yang sama denganku.


Ini adalah aku. Dan kini kuberikan padamu dengan sepenuh jiwa. Tanpa balasan imbalan, tanpa syarat. Hanya engkau menerima hadiahku.

 

Tuesday, May 10, 2016

Kasak kusuk

Pagi-pagi menuju sebuah kantor. Lorongnya gelap. Belum banyak orang, syukurlah. Sedang malas juga bertemu manusia.

Masuk ke sebuah ruangan. Belum banyak orang, kembali bersyukur. Lampunya redup. Ada mesin karcis antrian, tapi saya lewati. Orang yang mau saya temui sudah di depan mata.

Terjadi pembicaraan delapan mata. Saya tidak sendiri, ada seorang teman. Suara kami begitu pelan sampai suara AC terdengar bising saat mengeluarkan hawa dingin. Terjadi kasak kusuk pagi itu. Obrolan yang tidak ingin terdengar.

"Bangun," katanya. "Awas," bilangnya. "Selesaikan di lapangan," katanya lagi.

30 menit kemudian saya berlalu keluar dari ruangan. Pesan itu sudah tersampaikan.  


Sunday, April 17, 2016

Di suatu malam

Mungkinkah alam sedang menangis? Air matanya seperti tak kunjung henti. Bumi dibuat basah dan gelap sebelum waktunya. Deru tangisnya terdengar gaduh di angkasa. Sampai-sampai memekakkan telinga yang mendengarnya.

Atau ia sedang marah? Kilatnya menyambar-nyambar seperti juru foto yang sibuk membidik sasaran. Tak heran awan menjadi terang meski gelap gulita. Menampakkan wajah yang garang.

Itulah yang terjadi di suatu malam. Saat aku sedang berlari mengosongkan pikiran. Tangis alam membasahi sekujur tubuhku. Meresap masuk ke dalam jiwa dan melebur menjadi satu.

Jika saja alam bisa mengosongkan pikirannya, air matanya tentu takkan jatuh, pikirku sembari berlari semakin jauh.

Si rumah mungil

Kicau burung sahut menyahut dari pucuk pohon. Suaranya senyaring silau mentari pagi yang menyambar masuk melalui jendela. Bunga Matahari yang tumbuh subur di kebun ikut bersinar. Kelopaknya yang kuning terang membangunkan tanaman lain yang tertidur semalaman. Perlahan, sang embun mulai memberikan kehidupan bagi kebun itu dengan butiran airnya.

Di atas petak kebun, tumbuh seonggok bangunan mungil. Terlihat sekawanan batu bata menyembul di muka bangunan, seakan menolak bersembunyi di balik semen. Jendela bangunan mungil yang besar mempertontonkan gerak gerik di dalamnya. Tampak meja dan kursi saling tertawa riang. Menari diayun musik yang keluar dari setiap sudut bangunan. Suara genta angin dari kayu yang menggelantung di depan jendela tidak kalah nyaring. Sesekali mengeluarkan nada alam yang menyejukkan saat berbenturan ditiup angin.

Itulah si rumah mungil, yang hadir bagai embun di pagi hari. Setia dan senantiasa memberikan satu lagi kehidupan.

Friday, April 15, 2016

Entah

Entah apa yang membuat bisu segalanya. Suara lenyap tak bersisa. Seperti laut yang menyembur suara deru ombak, tetapi yang terdengar tetap hening, sepi, dan sunyi.

Kusayangkan keadaan yang kini serba kaku. Seperti angin laut yang dingin dan membeku. Membawa kehangatan yang dulu pernah ada. 

Blog Archive