Sunday, January 29, 2017

Geger (Ep. 2)

Satu persatu mereka datang. Waktunya jarang bersamaan. Kadang gantian. Kadang rombongan. Sirkus saja kalah ramai. Mereka malah suka muncul tiba-tiba. Entah dari mana. Satu-satu, kadang bebarengan. Semua terserah mereka mau datang dengan siapa.

Mereka tiba dengan wajah memelas, bersuara lantang dan berisik. Nyaring seperti piring pecah. Rombongan tanjidor saja kalah gaduh. Meski tidak sedang berdemo, mereka sehati dan sepakat untuk meneriakkan satu kata, "Lapar!".

Sudah datang tak terduga, bertandangnya tanpa sopan santun. Tidak satupun yang mengucap salam, apalagi bertukar kabar. Mereka langsung berhamburan masuk, ngacir menuju satu tempat. Dengan sekali endus, tanpa perlu radar, mereka tahu letak harta karun yang dicari. Sebungkus makanan kucing yang saya bungkus rapi, anti gores, anti robek, anti dicabik-cabik, dan anti-anti lainnya.

Kejadian geger ini baru selesai episodenya setelah mereka melahap bayangan mereka yang sudah menjadi santapan terindah dalam hidup mereka.   

*Untuk para kucing liar di luar sana

Milik Bersama (Ep. 1)

Jejak-jejak kecil. Menyusuri, mengitari ruangan. Menyelonong kesana kemari. Meninggalkan coretan di lantai. Membuat rute jejak yang sembrono.

Tampaknya ada yang sibuk. Entah mencari apa. Jelas mereka menyusup ke ruangan. Satu jendela kedapatan terbuka. Ketahuan cara mereka masuk.

Serbuan jejak kecil. Tapak itu tidak hanya satu. Besarannya berbeda, jejaknya dimana-mana. Sepertinya mereka bangga mempertontonkan gerak geriknya. Sebuah aksi tanpa saksi mata.

Tinggal saya sendiri. Berdiri menatapi lantai yang sehari sebelumnya saya poles rapih. Bersih dan wangi.

Bercak tanah bermotif telapak-telapak kaki kucing menjadi satu pertanda. Rumah saya milik mereka juga.

Pilihan

Banyak orang menuangkan ide, tapi seberapa besar ide itu berjalan dan tidak mandek di ruang konsep.
Banyak orang menyodorkan janji, tapi seberapa banyak orang yang bisa mengolah janji menjadi bukti.
Tidak sedikit orang yang pandai berkata-kata. Berdiplomatis kadang. Namun seberapa banyak kata yang tidak hanya berujung teori?

Belakangan banyak sekali ide yang diumbar, berlimpah janji, berjibun kata pintar. Belum lagi wajah-wajah yang memesona memberi kesan yang berbeda pula. Lalu muncul cerita-cerita yang beragam diantara mereka. Bahkan saling menjatuhkan. Membuat banyak orang bimbang untuk menentukan pilihan.

Beruntung saya bukan termasuk orang yang bimbang, ragu, juga sangsi. Jauh sebelum perang debat, saya sudah tentukan pilihan. Jauh sebelum mereka meyakinkan rakyat, saya sudah percaya.

Dia pilihan saya. Janjinya telah dibuktikan pada saya.
Dia tidak lagi berteori. Dia telah mengimplementasi.
Dia sudah berjalan. Dia hanya perlu menyelesaikan langkahnya.

Sunday, December 11, 2016

Selamat Jalan Bapak

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un. Saya ucapkan sambil menitikkan air mata. Dalam doa dini hari tadi, saya teringat sosok bapak, ayah dari sahabat saya, dan juga mantan atasan saya. Sosok yang membukakan pintu nafkah bagi saya, hingga saat ini.

Mr. Clean. Begitu sebutannya. Jabatan yang tidak tergantikan hingga akhir hayatnya. Julukan yang langka di tengah virus korupsi yang menggerogoti tubuh negara ini.

Saya tidak begitu tahu seluk beluknya saat blusukan di pemerintah. Saat berusaha mengobati negeri ini dari penyakit korupsi. Saat memikirkan bangsa dan negeri ini. Saya lebih mengenal beliau sebagai seorang atasan. Seringkali beliau masuk ruangan saya. Duduk berlama-lama dan mengajak kami mengobrol. Tentang pekerjaan, kehidupan, agama. Satu yang tidak pernah diucapkannya saat di kantor adalah tempat salah satu kakinya berpijak: pemerintahan. Ia berprinsip Bungkam tentang politik karena kantor saya menganut paham netral dan hanya mengurusi masalah kemanusiaan. Bukan perpolitikan.

Atasan saya ini pembawaannya tegas, kadang galak, sering juga marah-marah. Pernah malah gebrak meja. Ya begitulah atasan, marahnya beliau menjadi proses pembelajaran yang ia terapkan kepada kami bawahannya. Supaya pekerjaan kami menjadi lebih baik.

Di luar kantor, saya sesekali bertemu beliau saat bertandang ke rumah sahabat saya. Adalah pengalaman yang tak terlupakan saat awal pertemuan dengannya, beliau berhasil membuat saya berdiri kaku.

"Siapa kamu? Bapak kamu siapa? Pekerjaannya apa?", ia bertanya kala itu dengan suara lantang, Sukses bikin saya bergidik. Beruntung suasana semakin cair saat beliau mulai mengenal saya.

Suara lantang itu telah lama hilang. Tak lagi terdengar sejak ia terbaring sakit. Ia tak lagi tegap berdiri seperti saat dulu berhadapan dengan saya. Saya tak lagi melihat semangatnya seperti saat ia rutin berjalan cepat di setiap penghujung sore.

Pak Mar'ie, beristirahatlah kini. Lepaskanlah lelahmu, pikiranmu, dan seluruh beban yang Bapak emban selama ini. Biarkan Allah kini menjagamu, seperti engkau berupaya menjaga negeri dan bangsa ini, juga kami.

Selamat jalan Bapak.  

Friday, December 02, 2016

Jangan nodai Jakarta

Hari ini Jakarta seperti kota suci. Jantung ibukota menjadi serba putih berserukan doa. Massa berbondong ingin beraksi damai. Kalau saja massa tidak penuh sesak, mereka pasti sudah memutari Monas yang ibarat Ka'bah hari itu. Berita menyebutnya aksi super damai. Saya menyebutnya peristiwa yang layak masuk daftar sejarah Jakarta. Bagaimana tidak, satu orang bisa menyatukan ribuan orang. Berkumpul jadi satu.

Dari kejauhan, saya melihat kota kelahiran saya. Berharap darah tidak tumpah menodai warna putih yang ada. Berharap bukan darah yang menggenangi kota Jakarta, melainkan hujan yang turun. Biarlah kota saya tetap adem, seperti yang terjadi kalau musim hujan tiba.

Dari kota sebelah, perasaan saya campur aduk. Khawatir dengan apa yang bisa saja terjadi. Ribuan orang berkumpul, kadang berakhir tawuran. Beruntung, ketakutan saya sirna. Aksi damai lancar, saya pun mengucap syukur.

Hari ini Jakarta tidak ternodai.

Tuesday, September 20, 2016

Jejak

Pasir membentuk seluas alas kakiku. Menampakkan iring-iringan jejakku yang berbaris seperti serdadu. Setia mengikuti langkahku yang kutenggelamkan terbenam di dalam pasir. Lembutnya butiran pasir kurasakan menempel di kakiku. Begitu halus, sampai hangatnya air laut menanggalkan setiap butirannya dari kakiku.  

Aku terus berjalan dengan sesekali menengok ke belakang. Jejakku menghilang. Disapu air laut yang datang dan pergi. Kulihat kembali ke depan. Pasir membentang seluas pandanganku. Menunggu setiap jejak yang akan kubenamkan di lautan butiran pasir.  

Di dekatku, air laut menderu. Seakan berseru untuk kembali menghapus jejakku.



   


Sunday, September 18, 2016

Mengejarmu

Aku mengikuti langkahmu di jalan penuh batu. Langkahmu panjang dan menyepak bebatuan. Aku tertinggal bersama serpihan batu yang pelan-pelan berusaha kubuang. Kutendang agar menjauh dari jalan itu, dari hadapanku. Hanya untuk mengejar langkahmu. Yang panjang dan lebar.

Kadang kau berjalan terlalu jauh. Meninggalkan sosok bayangan di kejauhan. Sementara Aku masih tertinggal. Mencoba melampiaskan kerikil yang masih tercecer di jalan.

Di jalan yang semakin berkelok dan berbelok. Aku terus mencoba menyongsongmu yang kini setengah berlari. Entah bayangmu atau dirimu yang akan kutemui.



 

Sunday, July 17, 2016

Memecah keheningan

Disana aku berdiri, di saat yang lain terduduk dan sibuk memecah hening ruangan.
Waktu yang bergulir pelan berlalu disampingku.
Setia menemani kekosonganku yang buyar saat kau hadir.

Engkau tiba tanpa kata. 
Hanya senyum yang menyapaku dengan bisu. 
Meski ketika kita bersama, tidak ada satupun kata yang terlewat. Tidak ada cerita yang tak usai. Tidak ada tawa yang gagal memecah keheningan.




Tuesday, July 12, 2016

Belum saatnya

Setiap lembar kertas, seharusnya diisi dengan hal baru. Kejadian yang menyenangkan, yang mengundang senyum dan tawa, yang mencurahkan tangis bahagia.

Setiap cerita seharusnya luput dari rintik air mata. Lepas dari emosi yang melelahkan, mandiri dari perasaan terbelenggu, terhindar dari rasa kebingungan.

Mungkin kini belum saatnya. Mungkin waktu yang akan menjawab kapan sebuah kisah akan menuturkan keceriaan, kegiarangan, kesukacitaan. Jika waktu memperbolehkan.  

Saturday, May 14, 2016

Hadiah yang mulia

Seharian bahkan seminggu aku memintal kata. Menalinya agar menjadi satu kalimat yang sangat sederhana, mudah dicerna, dan tulus. Satu kalimat yang terbebas dari hiasan kata yang bisa menjerumuskannya pada arti kebablasan. Tidak, aku tidak mau itu.


Ini adalah produk kejujuran dari hati yang paling dalam. Dari sebuah nurani. Ini adalah separuh dari jiwaku yang sedari dulu bersembunyi dan terpendam. Jika bukan sekarang, suatu hari hadiah terindah ini akan kuberikan pada orang terkasih. Dia yang menurunkanku dari langit. Mengajarkanku menapak bumi, bicara, dan menyayangi mahluk yang sama denganku.


Ini adalah aku. Dan kini kuberikan padamu dengan sepenuh jiwa. Tanpa balasan imbalan, tanpa syarat. Hanya engkau menerima hadiahku.

 

Blog Archive