kata mereka, tangan Tuhanlah yang mempertemukan kami. namun tangan Tuhan juga yang menghentikan semua sandiwara ini. Dia yang menulis skrip, Dia yang menyiapkan panggung, memilih pemerannya, membuka layar dan Dia pula yang akhirnya menghentikan puluhan episode ini. seperti layaknya sebuah kisah, sandiwara juga berkisar tentang kisah bahagia atau sedih di dalamnya. apapun itu, adalah cerita yang meramu segala bentuk emosi sehingga melahirkan kisah yang luar biasa. begitulah sandiwara Tuhan. tidak ada yang tidak istimewa dari cerita milik Tuhan. kali ini Tuhan memainkan sepotong kisah tentang cinta. sebuah rasa yang maha agung, begitu dipuja, begitu indah. anugerah yang maha dasyat. aku setuju hingga ke dalam2nya. sampai mentok ke akar2nya. seumpama petasan, ia meledak lalu serpihan cahayanya tumpah ruah ke segala penjuru langit. warnanya yang mejikuhibiniu menghiasi angkasa. bagaikan pelangi di malam hari. itulah rasa cinta, meski skenario sandiwara kali ini tidak seindah cinta pelangi....
Dimana pun kita berada, pertemanan seharusnya tanpa batas wilayah. Begitu pun dengan monyeters yang formasinya berantakan karena beberapa anggotanya harus jauh dari markas besar, yaitu Jakarta. Oleh karena itu ide untuk membuat sebuah traveling book cukup cemerlang untuk direalisasikan. Setidaknya traveling book bisa menjadi media bagi monyeters untuk sharing apa saja setelah kita jarang (tidak bisa) bertemu langsung. Karena sebagian besar anggota monyeters setuju dengan ide traveling book ini, berarti disepakati traveling book menjadi hasil suara bulat. Salah satu peraturan traveling book adalah melibatkan setiap monyeters untuk ikut mengisi traveling book. Monyeters bebas menulis apa saja di traveling book. Hanya satu peraturan yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat: menulis harus dengan pulpen tinta HITAM (hehehe, g puyeng euy kalo warna lainnya..). Setelah Palangkaraya, traveling book kini berada di Jakarta dan sebentar lagi akan singgah di Bali. Tujuan terjauh traveling book ad...
akhir pekan lagi. setelah menanti kebahagiaan yang di-tunggu2, ternyata keberuntungan belum ada di pihak g. g coba untuk tidak membenamkan diri sendiri dalam kesepian seperti yang lalu. akhirnya, g terpaksa melacur dan mendompleng di kebahagiaan orang lain yang jelas2 tidak membuat g bahagia malam itu. pikiran g melayang kemana-mana plus kaki g pegal karena harus muter2 di mal yang cukup besar. akhirnya g hanya kembali merasakan kelelahan yang luar biasa; fisik maupun hati.
Comments