Posts

Fenomena 2 Film 2012

Munculnya suara kontra terhadap film 2012 adalah femonena pertama yang saya lihat. Lalu ada fenomena kedua, yaitu tersedotnya masyarakat untuk mau capek-capek antri membeli karcis film ini. Saya adalah korban antri, itupun di minggu kedua film ini ditayangkan. Di minggu pertama, saya seperti kehabisan ide untuk membeli karcis. Saya sudah datangi dua bioskop cukup populer di Jakarta, tapi keduanya saat itu tampak seperti pasar. Orang dimana-mana. Loket juga sudah pasang pengumuman “Tiket habis” alias “Sold Out”. Jangan tanya untuk jam tayang yang mana, karena semua tiket untuk semua jam tayang malam itu HABIS. Akhirnya saya dan teman menjadi penonton buangan. Beli karcis film yang tidak diminati siapa-siapa. Film yang menjadi pilihan terakhir dari banyak film yang di putar malam itu. Sebelum nonton, kami pergi ke cafe penjaja yoghurt. Meski cafenya menarik, dengan gaya minimalis dan self service, saya tetap gagal menyukai makanan rasa asam basi ini. Padahal topping-toppingnya saya suka....

Fenomena 1 Film 2012

Manakala ada air laut atau tsunami yang membanjiri bagian dunia tertinggi, yaitu Pegunungan Himalaya di Tibet, apakah ini mengindikasikan sesuatu? Tentu saja ini berarti akhir dari kehidupan atau kiamat. Kalau dataran tertinggi saja sudah tergenangi air berton-ton banyaknya, bagaimana dengan daerah terendah? Tentu saja Tibet tenggelam. Belum lagi kalau malapetaka ini juga terjadi di belahan dunia lainnya. Tamat sudah kehidupan manusia. Tenggelam bersama kisah-kisah kehidupannya yang telah lampau. Tenggelamnya Pegunungan Himalaya adalah satu cuplikan dari resensi Film 2012 yang ternyata cukup heboh saat nampang di layar bioskop. Menyedot penonton itu sudah pasti, tapi yang lucu film ini menuang suara kontra, terutama dari pihak MUI Kab Malang. Mereka melarang masyarakat menonton film 2012 dan menghimbau muslim untuk tidak mempercayai gambaran kiamat di film itu. Jadi, intinya mereka bilang film itu menyesatkan karena tidak ada satupun yang bisa menentukan hari itu, kecuali sang pencipta...

Pulang

Barusan saya mampir ke rumah yang telah lama kami tinggalkan. Rumah itu telah kosong hampir setahun lamanya. Saya berdiri di depan pagar, menatap dalam-dalam pondasi yang pernah menjadi tiang penyangga cerita bahagia. Dahulu, saat semuanya mengalir indah. Dari balik pagar rumah kami nyaris runtuh karena tak terurus. Dindingnya yang dulu putih gading kini telah menghitam. Catnya pun mengelupas membawa kisah kehidupan yang dulu melekat kuat tak terpisahkan. Dari balik kaca jendela biasanya kami ada. Menimbun bahagia yang tidak kalah meriah dari pesta ulang tahun sekumpulan bocah. Bersama anak-anak yang tumbuh dewasa, kami perlahan menyatu sebagai keluarga. Kini bahagia itu sudah tidak tampak lagi. Ilalang yang tumbuh tinggi menghalangi pandangan saya yang mencoba menembus sisa-sisa kaca yang kebanyakan telah pecah. Saya lihat halaman rumah kami tak lagi sama. Bunga-bunga kisah satu persatu sudah layu membuat daun-daunnya berhamburan di tanah. Belum sempat saya punguti, tiba-tiba saya m...

Sebuah Tulisan

Hari ini saya membaca sebuah tulisan di salah satu website yang belakangan jarang saya buka. Tulisan itu cukup sedih, bercerita tentang seseorang yang meninggalkan dunia meski dia tahu saat itu belum waktunya dia pergi. tapi sesuatu memaksanya untuk bertindak di luar kehendaknya. Tindakan yang merupakan hal terakhir dalam pikirannya. Saya berpatokan bahwa tulisan yang menimbulkan getaran dalam jiwa saya adalah sebuah tulisan yang baik. Entah karena gaya penulisannya atau isi tulisan itu. Jujur, saya kecewa terhadap diri saya sendiri karena sengaja ingin melupakan situs yang dahulu bisa membuat saya menjadi diri saya sendiri. Di balik isi tulisan yang menyentuh itu, diantara kesedihan dan rasa haru yang kental itu, ada bagian yang mencerahkan. Seperti sinar lentera yang meski redup, tapi masih bisa menerangi kegelapan. Saya membaca dan membayangkan diri saya ada di dalam tulisan itu. Tentu saja tanpa skenario meninggalkan dunia yang membuat saya merinding. Entah di sisi mana, tapi saya ...

People Come and Go

Ruang tamu tiba-tiba penuh dengan barang. lemari buku, komputer, kardus berisi buku-buku, meja belajar, dan televisi berserakan disana. Ternyata mereka datang dari kota bandung, tempat adik bungsu kuliah. Empat setengah tahun mereka menemani adik bungsu menetap di rumah kos yang tak jauh dari tempat saya tinggal dulu ketika kuliah. Seperti saya, adik bungsu kini telah kembali ke rumah. Barang-barangnya pun tak lupa diangkut serta. Dunia memang betul berputar, karena orang-orang di dalamnya juga terus bergerak. Bersamaan dengan kedatangan adik bungsu, sobat saya pergi untuk alasan yang sama. Bukan ke bandung, melainkan ke negeri yang harus ditempuh selama setengah hari perjalanan. People come and go . Begitulah yang terjadi di dunia sekeliling saya. Sore ini saya bertemu dengan beberapa teman SMA. Entah kapan terakhir kami bertemu, tapi sore itu kami dipertemukan kembali. Wajah-wajah yang dulu pernah saya tegur sapa dan telah hilang setelah sekian waktu, kini datang kembali. Muncul dala...

Workshy, Tolong Bawa Saya Ke Masa Lalu

Minggu. Acara benah-benah kamar. Ah, hiperbola. Maksud saya benah-benah folder di komputer saya. Kalau urusan benah-benah kamar tetap saya percayakan pada mbak Sum. Saya tidak mau menjamah pekerjaannya ah, takut nanti kehormatannya sebagai cleaning service terkesan saya langkahi (Alasan. Dasar saya pemalas…). Selagi bersih-bersih folder, tak sengaja saya menemukan folder album grup favorit saya yang lagu-lagunya pernah saya dengar jaman kuliah dulu. The Finest Collection of Workshy ternyata mumpet di bagian terdalam kumpulan folder. Ih, betapa norak bercampur bahagia saya ketika menemukan folder grup jempolan saya itu. Bagaikan seorang pilot yang akan melepas landaskan pesawatnya, saya langsung sibuk pencet sana sini. Speaker on. Check! Subwoofer on. Check! Maximum volume. Check! Flight attendants, get-down position (halah…). Dan ampuni saya Tuhan, acara ajojing sendirian di kamar pun tidak bisa saya hindari. Spontan siang ini saya kencan dengan duo acid jazz yang musiknya dibilang pe...

Pesta Kebun

Matahari baru saja akan pamit saat saya melangkah masuk bangunan itu. Saat saya menengadah, ia diam menggelantung di balik awan. Entah menunggu bulan tiba atau mengamati gerak gerik saya di sore itu. Bangunan itu tak bertingkat, tak besar pula. Gerbangnya yang selalu terbuka menebarkan aroma keramah tamahan di setiap sudut. Sungguh, saya seperti melayang saat melangkah masuk. Tapak kaki saya seperti terbuat dari kapas, begitu ringan. Padahal tidak ada angin ribut yang mendorong saya masuk. Angin sama sekali tidak sedang berhembus. Ranting pohon saja tak bergemerutuk. Malas beradu rupanya tanpa bantuan angin sang provokator. Di halaman seorang petugas tampak lalu lalang membawa baskom-baskom plastik. Lucu, bentuknya mini. Warnanya pun warna warni. Indah seperti hiasan bola kaca di pohon natal. Jumlahnya tak cuma satu. 1..2..3..6! saya hitung. Halaman itu jadi taman bermain dengan kehadiran pasukan baskom. Tiba-tiba semua terasa sempit. Saya terhimpit di ruangan yang serba luas. halaman ...